Langsung ke konten utama

TENTANG ALL ENGLAND FINAL DI LIGA CHAMPIONS

newsmaker.tribunnews.com

Her soul slide away. But don’t look back in anger. I heard to say”. Sepenggal lirik dari band Oasis yang identik dengan klub sepak bola terbaik di dunia pada dekade ini: Manchester City. Juga “Chelsea, Chelsea, Chelsea, Chelsea. We’re gonna make this a blue day” sepenggal lirik dari pentolan Ska dari tanah Britania: Suggs feat. The Chelsea Football Team, sebagai anthem darinya untuk klub kebanggaan di Kota London: Chelsea FC.

Lagu-lagu tersebut menduduki tangga lagu teratas yang sering didengar di Inggris pada era 90-an. Klub kebanggaan dari kedua band tersebut akan berhadapan di Final Liga Champions 2020/2021 yang akan dihelat pada 30 Mei 2021 di Dragao Stadium, kandang FC Porto, Portugal.

Chelsea berasil melaju ke final setelah mengalahkan “Raja Eropa” Real Madrid di leg kedua dengan skor 2-0 di Stamford Bridge Stadium dan unggul agregat 3-1. Gol pertama dicetak oleh Timo Werner di menit 28’ berkat bola rebound dari Kai Havertz yang menyentuh tiang gawang. Mason Mount menambah keunggulan Chelsea pada menit 85’ setelah mendapat umpan akurat dari Christian Pulisic. Hasil tersebut membawa Chelsea kembali berlaga di Final Liga Champions setelah terakhir dan menjuarainya pada tahun 2012.

Sedangkan lawan Chelsea nanti, Manchester City, mencetak sejarah untuk pertama kalinya melaju ke partai puncak setelah mengalahkan finalis Liga Champions tahun lalu; Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 2-1 di Etihad Stadium. Brace goal dari Riyad Mahrez di menit 11’dan 63’ berasil menenggelamkan harapan PSG untuk comeback pada leg kedua dengan agregat 4-1 bagi kemenagan The Citizens.

Setelah satu dekade partai Final Liga Champions didominasi oleh klub dari La liga, kini klub dari Premier League akan pentas (lagi) di partai final. Sebelumnya jarang sekali partai Final Liga Champions beradu antar satu negara, khususnya dari Premier League. Bisa dibilang laga “All England Final” hanya hitungan jari saja bentrok di Final Liga Champions.


Laga pertama terjadi pada musim 2007/2008 antara Manchester United vs Chelsea yang bertepatan di Luzhniki Stadium, Kota Moskow, Rusia. Laga tersebut begitu sengit karena dua klub menjadi raja di Premier Leauge; Manchester United bertengger di peringkat pertama sekaligus menjuarainya dan Chelsea berada peringkat kedua dengan status ruuner-up­ dengan selisih dua poin.

Mancherster United membuka skor lebih dahulu pada menit 26’ berkat umpan silang dari Wes Brown yang langsung disundul oleh Christiano Ronaldo ke gawang yang tak mampu dihadang oleh Peter Cech. Keunggulan Manchester United tidak bertahan lama setelah Frank Lampard mampu menceploskan bola ke gawang Edwin Van Der Sar berkat bola rebound dari tendangan Michael Essien pada menit 45’ jelang turun minum. Skor 1-1 bertahan hingga babak Extra Time.

Babak adu penalti menjadi penentu bagi kedua klub untuk menjadi juara. Carlos Tevez dan Michael Carrick sukses menjalankan tugasnya. Begitu juga dari kubu sebrang, Michael Ballack dan Juliano Belleti yang mampu menceploskan bola dari titik 12 pas. Sayangnya pendendang ketiga Manchester United, Christiano Ronaldo, gagal mengembankan tugasnya setelah tendangannya mampu ditepis oleh Peter Cech. Chelsea semakin diatas angin ketika Frank Lampard dan Ashley Cole mampu menambah skor bagi Chelsea.

Chelsea saat itu bisa meraih tropi Liga Champions pertamanya andai saja kapten mereka, Jhon Terry, yang saat itu menjadi eksekutor penentu, tidak tergelincir saat menendang bola yang alhasil melambung tinggi di atas mistar gawang. Adu penalti kembali berlanjut. Luis Nani, Anderson, dan Ryan Giggs sukses menyarangkan bola, begitu juga dengan Salomon Kalou yang juga berhasil menendang bola penalti.

Edwin Van Der Sar menjadi pahlawan bagi Manchester United setelah mampu menepis tendangan dari Nicolas Anelka. Alhasil pertandingan tersebut dimenangkan oleh Manchester United dengan skor penalti 6-5. Di bawah guyuran hujan, asuhan Sir Alex Ferguson mengangkat piala Liga Champions untuk ketiga kalinya.

Final Liga Champions 2008/2009 bisa saja menjadi laga ulangan andai saja Chelsea mampu mengalahkan Barcelona di fase Semi final. Laga tersebut sarat akan emosi bagi Chelsea dan pendukungnya lantaran keputusan wasit saat itu, Tom Henning Ovrebo, menjadi kontroversi akibat keputusan-keputusannya yang tidak adil bagi pihak Chelsea.

Laga kedua terjadi pada musim 2018.2019 antara Liverpool v Tottenham Hotspur yang berlangsung di Wanda Metropolitano Stadium, markas Atletico Madrid, Spanyol. Laga tersebut menjadi pembuktian bagi Liverpool yang musim sebelumnya mengalami kekalahan oleh Real Madrid dengan skor 3-1 – juga menguasaikan puasa gelar. Begitu juga dengan Tottenham Hotspur, sebagai tim underdog, asuhan Mauricio Pochettino mampu mencatatkan sejarah bagi The Spurs dengan melaju ke partai puncak untuk pertama kalinya.

Liverpool mendapat hadiah penalti sejak awal pertandingan menyusul hands ball dari gelandang Tottenham Hotspur, Moussa Sissoko. Mohamed Salah mampu mengemban tugasnya sebagai eksekutor penalti sehingga mengubah papan skor menjadi 1-0 pada menit 2’. Skor tersebut bertahan sampai babak pertama usai.

Tensi permainan begitu tinggi karena kedua tim mampu melakukan jual-beli serangan selama babak kedua. Liverpool akhirnya menyudahi perjuangan Tottenham Hotspur untuk mendapatkan gelar pertamanya saat Divock Origi mampu menambah skor berkat umpan dari Joe Matip di kotak penalti di menit 87’. Skor 2-0 menjadi hasil akhir bagi kemenangan Liverpool. Hasil tersebut menjadikan Liverpool keluar sebagai juara Liga Champions 2018/2019. Asuhan Jurgen Klopp juga menjadikan Liverpool sebagai pengoleksi gelar Liga Champions terbanyak di Premier League sebanyak enam trofi.

Tahun 2018/2019 adalah tahun dimana klub dari Premier League unjuk gigi di kompetisi Eropa. Tahun tersebut bisa dibilang “All England final banget”. Tak hanya Liga Champions, tetangga kompetisinya, Liga Eropa (UEL) juga mempertemukan dua klub dari Premier League. Duel antara dua klub terbesar di London antara Chelsea kontra Arsenal. Pertandingan dimenangkan oleh Chelsea dengan skor telak 4-1 atas Arsenal.

Laga Manchester City v Chelsea menjadi laga ketiga di Final Liga Champions antar sesama Premier League. Asuhan Pep Guardiola berhasil meraih gelar Premier League 2020/2021 dan Carabao Cup 2021 yang menjadi modal percaya diri mereka untuk bisa mengangkat si kuping besar untuk pertama kalinya. Prestasi tertinggi Manchester City di Liga Champions sebelumnya hanya mentok di perempat final pada musim 2017/2018 dan 2018/2019.

Begitu juga dengan Chelsea di bawah nahkoda Thomas Tuchel. Awal kedatangannya pada  tahun 2021 mampu membangkitkan performa Chelsea sepeninggalan Frank Lampard. Meski gagal di final Piala FA oleh Leicester City, Tuchel mampu menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih berkelas seusai mengantarkan Chelsea ke final Liga Champions dan final Piala FA hanya dengan kurun waktu lima bulan. Partai ini juga menjadi pembuktian bagi Thomas Tuchel yang di musim sebelumnya gagal saat menukangi PSG untuk meraih gelar Liga Champions dari raksasa Jerman, Bayern Munchen.

Manchester City digadang-gadang menjadi favorit untuk menjuarai Liga Champions tahun ini. Dengan pemain-pemain yang bertabur bintang seperti Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, dan juga rekrutan terbaiknya tahun ini, Ruben Dias mampu mempertunjukkan permainan kelas wahid dengan taktik dari sang Maestro Tiki-Taka, Pep Guardiola.

Chelsea pun tidak bisa dianggap remeh dalam pertandingan ini. Azpilicueta CS juga mampu berbicara banyak dalam adu kekuatan. Lini tengah Manchester City harus siap-siap berduel dengan N’golo Kante, si anak baik yang mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan. Juga wonder kid hasil dari akademi, Mason Mount juga patut diwaspadai oleh lini pertahanan Manchester City.

Sepak bola selalu memberi kejutan di setiap pertandingannya. Keajaiban bisa saja menyelimuti tim yang tidak diunggulkan untuk menjadi juara, atau kasih dari Dewi Fortuna yang mampu menyelamatkan tim dari kebobolan. Ah sudahlah, berikanlah permainan terbaik yang enak ditonton untuk para pemirsa di seluruh dunia!

Jika Chelsea memenangi pertandingan ini maka mereka akan menambah koleksi piala Liga Champions menjadi dua trofi, juga menjadi trofi perdana bagi Manchester City jika berhasil menjuarainya dan mencetak sejarah. Jadi, akan mendarat ke almari klub manakah tropi si kuping besar tersebut? Juga hashtag #KTBFFH atau #ThisIsOurCity kah yang akan meramaikan trending di twitter? Kita lihat saja nanti pertandingan All England Final!

*Artikel ini dibuat untuk menyambut pertandingan antara Chelsea v Manchester City di Final Liga Champions.

SEMOGA BERMANFAAT!

ARIF SYAMSUL MA'ARIF
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


Komentar

Posting Komentar

Kalian perlu tahu

Cara Terbaik Memaksimalkan Efek Fading pada Denim

  Sumber: Denim Enthusiast Group Line Denim heads pasti sudah tidak asing dengan kata" fading ". Singkatnya fading adalah perubahan warna biru dari tanaman indigofera pada denim di bagian-bagian tertentu. Menurut Darahkubiru.com, situs tentang denim lifestyle, hal ini ada benarnya, karena fading pada dasarnya terjadi karena adanya gesekan pada bagian-bagian tertentu pada jeans yang mengakibatkan indigo terlepas dari jeans. Proses fading pada denim terbilang cukup lama sehingga butuh waktu berbulan-bulan dan konsisten dalam pemakaian denim. Selain terbentuk karena proses pemakaian, fading pada denim sebenarnya sangat dipengaruhi oleh cara pencucian yang diterapkan. Asal tahu teknik dan cara yang benar, dapat dipastikan efek fading pada denim yang terbentuk akan terlihat cantik/keren saat dipandang. Itulah menjadikan fading adalah sebuah seni dalam pemakaian denim. Mau tahu bagaimana cara terbaik untuk memaksimalkan efek fading pada denim? Berikut lima cara menghasilk...

Karya Tulis Ilmiah Analisis Sejarah Sastra

CINTA DAN ALAM DALAM PUISI SOE HOK GIE YANG BERJUDUL CAHAYA BULAN: TINJAUAN STRUKTURALISME SASTRA Arif Syamsul Ma’Arif, 185030086, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pasundan, Bandung, 2018 Email: arifanami26@gmail.com Abstrak Di tengah berbagai puisi tentang nasionalisme, Gie juga dihadapkan pada situasi yang dinamakan cinta kepada perempuan, meskipun kisah percintaan Gie dapat dikatakakan tragis. Kisah cinta Gie juga dapat disandingkan dengan kecintaannya terhadap alam, khususnya lembah Mandalawangi. Dalam puisi “Cahaya Bulan” karya Soe Hok Gie tersebut membahas tentang cintanya terhadap alam akan keindahan lembah Mandalawangi di gunung Pangrango dan perempuan . Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan strukturalisme karena puisi ini membahas tentang struktur yang ada dalam karya sastra itu sendiri. Oleh karena itu penulis akan memaparkan puisi “Cahaya Bulan” karya Soe Hok Gie. Kata k...

Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu Polka Wars: Bunga (Kajian Semantik)

Bahasa menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang memudahkan untuk berinteraksi antara satu sama lain. Bahasa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer; digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sedangkan Chaer (2002:30) berpendapat bahwa bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya – semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga sebagai alat untuk mengekspresikan jiwa, perasaan, gagasan, ide, dan emosi manusia. Biasanya, cara manusia untuk menyampaikan perasaan akan menggunakan kata-kata yang indah seperti puisi, syair, hingga lagu. Lagu menurut KBBI adalah ragam suara yang berirama (dalam bercakap, bernyanyi, membaca, dsb) yang diiringi oleh instru...