| Sumber: Pinterest |
Manusia tidak pernah luput dari perkembangan zaman dalam memilih gaya hidup. Terkadang beberapa ada yang masih terjebak dengan gaya hidup di zaman yang sudah berlalu atau mengikuti gaya hidup di setiap zamannya. Akan tetapi, pemakaian denim menjadi gaya hidup yang tak lekang oleh waktu. Dari yang tua sampai muda, denim menjadi salah satu prioritas dalam berpakaian formal maupun non-formal.
Denim tidak hanya sekedar dipakai saja, denim pun bisa menjadi ikon bagi kelompok dalam suatu pergerakan. Pada tahun 1963, denim dijadikan sebagai bentuk perlawanan bagi seorang penulis dan aktivis gerakan sipil asal Amerika Serikat, Anne Moody dan Study Nonviolent Coordinating Committee (SNCC) gerakan anti rasisme yang digagas para mahasiswi kulit hitam untuk melawan segregasi di Amerika Serikat. Awalnya, kain denim hanya dipakai oleh para budak di Amerika Serikat sebagai busana pembeda dengan tuannya. Anggota SNCC yang mayoritas dari kalangan menengah ke atas, tidak dididik untuk menggunakan denim karena ketidaksetaraan nasib dengan para budak. Tetapi mereka tidak peduli dengan aturan tersebut, karena mereka meyakini bahwa pemakaian denim adalah busana yang paling layak jadi seragam perjuangan.
Setelah perang dunia II, denim bukan hanya sekedar fashion, melainkan sebuah penolakan terhadap perbedaan kelas. Salah satu merk denim ternama yaitu Levi’s, mengeluarkan propaganda “Right Jeans For School”sebagai bentuk perlawanan terhadap kesan negatif pada penggunaan denim.
Denim bukan hanya sekedar dipakai, namun ada hal-hal yang melatar belakangi penggunaan denim lebih dari sebuah pakaian. Menurut Miller dan Shopie (2012) menjelaskan dua filosofi dalam pemakaian denim. Denim dalam kehidupan merupakan titik dalam hidup ketika tidak peduli dengan cara dan aturan pakaian, sehingga denim merupakan pakaian yang sempurna untuk berjalan apa adanya. Denim dalam kenyamanan jauh lebih dari sekedar rasa terhadap sebuah bahan yang digunakan, namun sebagai pengalaman fisik antara pakaian dan tubuh.
| Sumber: Pinterest |
Pemakaian denim memang tidak lekang oleh waktu bagi kalangan tua sampai yang muda. Denim pun bisa dicocokkan dengan gaya berpakaian apapun sesuai selera si pengguna, seperti The Lumberjack Style yang kembali terkenal dan digunakan untuk style dalam pemakaian denim. The Lumberjack merupakan style yang terinspirasi dari penebang pohon yang berada di negara Amerika Serikat. Perpaduan kameja berbahan flanel, denim, dan sepatu boots menunjukan sisi maskulinitas bagi si pengguna dan memberikan nilai eksklusif dalam pemakaian denim.
Peminat denim cukup melonjak karena pengguna denim bukan hanya untuk bergaya tetapi denim bisa menjadi karya seni. Seiring berjalannya waktu, pemakaian denim akan menghasilkan lipatan-lipatan di paha (whiskers), belakang lutut (honeycombs), juga pudarnya warna biru dari tanaman indigofera pada denim yang mengikuti bentuk kaki pemakainya. Hasil inilah yang disebut Fading. Setiap Fading pada denim akan berbeda-beda sesuai dengan bagaimana si pemakai melakukan aktivitas sehari-hari.
Pemakaian denim di Indonesia berkembang pesat beberapa tahun terakhir setelah dinaungi oleh forum denim terbesar se-Asia Tenggara yaitu ”Darahkubiru”. Darahkubiru sudah mewadahi para pembisnis denim dari pasar lokal hingga pasar internasional.
Komentar
Posting Komentar