Langsung ke konten utama

Karya Tulis Ilmiah Analisis Fonem Lirik Lagu Bila Karya Oscar Lolang


ANALISIS FONEM DALAM LIRIK LAGU BILA KARYA OSCAR LOLANG
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Fonologi
Bu Frilia Santika Regina, M.Pd.




Hasil gambar untuk unpas
 









Disusun Oleh :
Arif Syamsul Ma’arif
NPM : 185030086
Kelas : B




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PASUNDAN TAHUN 2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Hidayah, Inayah dan Rahmat-Nya sehingga saya mampu menyelesaikan penyusunan makalah Fonologi dengan judul “Analisis Fonem dalam Lirik Lagu Bila Karya Oscar Lolang” tepat pada waktunya.

Penyusunan makalah sudah saya lakukan semaksimal mungkin dengan dukungan dari banyak pihak, sehingga bisa memudahkan dalam penyusunannya. Untuk itu saya pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ibu Frilia Santika Regina, M.Pd. yang telah membimbing dalam proses pembelajaran, dan juga berbagai pihak yang sudah membantu saya dalam rangka menyelesaikan makalah ini.
Tetapi tidak lepas dari semua itu, saya sadar sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa serta aspek-aspek lainnya. Maka dari itu, dengan lapang dada saya membuka seluas-luasnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat berharap semoga dari makalah yang sederhana ini bisa bermanfaat dan juga besar keinginan saya bisa menginspirasi para pembaca untuk mengangkat berbagai permasalah lainnya yang masih berhubungan pada makalah-makalah berikutnya.


Bandung, 15 Mei 2019

Penulis


Daftar Isi


Kata Pengantar................................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................... ii

BAB I : Pendahuluan
A.     Latar Belakang Masalah...................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 2
C.     Tujuan................................................................................................... 3
D.    Manfaat................................................................................................ 4

BAB II : ISI
1.      Kajian Pustaka...................................................................................... 5
2.      Pembahasan.......................................................................................... 11
3.      Lirik Lagu............................................................................................. 11
4.      Analisis Lirik Lagu Berdasarkan Silaba............................................... 12
5.      Analisis Lirik Lagu Berdasarkan Fonem............................................. 13
6.      Bunyi Vokoid....................................................................................... 15
7.      Bunyi Kontoid...................................................................................... 17
8.      Mencatat bunyi karena mempunyai kesamaan fonetis........................ 18
9.      Mencatat bunyi karena tidak mempunyai kesamaan fonetis............... 19
10.  Mencatat bunyi yang berdistribusi komplementer............................... 19
11.  Mencatat bunyi yang bervariasi bebas ................................................  21
12.  Mencatat bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama .........  21
13.  Mencatat bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip .........  21
14.  Mencatat bunyi yang berubah karena lingkungan................................ 22
15.  Mencatat bunyi dalam inventori fonetis, fonemis, condong menyebar secara simetris         23
16.  Mencatat bunyi yang berfluktuasi........................................................ 24
17.  Mencatat bunyi yang selebihnya sebagai fonem sendiri...................... 24


BAB III : PENUTUP
A.    Kesimpulan........................................................................................... 25
B.     Saran..................................................................................................... 25
Daftar pustaka...................................................................................... 


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat interaksi dan alat komunikasi verbal yang hanya dimiliki manusia, bahasa dapat dikaji melalui struktur fonologi. Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi bahasa dan distribusinya. Unsur bahasa yang terkecil berupa lambang bunyi ujaran disebut fonem. Fonem dihasilkan oleh alat ucap manusiayang dikenal dengan artikulasi. kajian ini dilakukan dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur yang ada dalam disiplin linguistik saja.
Karya ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil dari penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Jadi, dapat disimpulkan belajar menulis karya ilmiah itu sangat penting. Supaya di setiap proses dan tahapannya sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain itu, pentingnya belajar menulis karya ilmiah juga dapat memperjelas sasaran atau tujuan dilaksanakannya penelitian sehingga dalam pembahasannya dapat disampaikan secara tepat dan mudah dipahami oleh pembaca. Sehingga saya membuat makalah penulisan karya ilmiah ini sebagai bahan pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka saya merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis sebuah lirik lagu yang berjudul “Bila” ciptaannya Oscar Lolang.




B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka ada empat belas rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut.
1.      Apa saja silaba dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
2.      Apa saja analisis fomem dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
3.      Apa saja vokoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
4.      Apa saja kontoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
5.      Apa saja bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
6.      Apa saja bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
7.      Apa saja bunyi yang berdistribusi komplementer dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
8.      Apa saja bunyi yang bervariasi bebas dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
9.      Apa saja bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
10.  Apa saja bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
11.  Apa saja bunyi yang berubah karena lingkungan dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
12.  Apa saja bunyi dalam inventori fonetis, fonemis, condong menyebar secara simetris dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
13.  Apa saja bunyi berfluktuasi dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
14.  Apa saja bunyi yang selebihnya seagai fonem tersendiri dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?




C.   Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki empat belas tujuan yang ingin dicapai, yaitu sebagai berikut.
1.      Mengetahui silaba dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
2.      Mengetahui analisis fonem dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
3.      Mengetahui vokoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
4.      Mengetahui kontoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
5.      Mengetahui bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
6.      Mengetahui bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
7.      Mengetahui bunyi yang berdistribusi komplementer dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
8.      Mengetahui bunyi yang bervariasi bebas dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
9.      Mengetahui bunyi yang berkontras pada lingkungan yang sama dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
10.  Mengetahui bunyi yang berkontras pada lingkungan yang mirp dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
11.  Mengetahui bunyi yang berubah karena lingkungan dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
12.  Mengetahui bunyi dalam inventori fonetis, fonemis, condong menyabar secara simetris dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
13.  Mengetahui bunyi yang berfluktuasi dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
14.  Mengetahui bunyi yang selebihnya sebagai fonem tersendiri dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.



D.   Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berhasil dengan baik, yaitu dapat mencapai tujuan secara optimal. Dapat menghasilkan laporan yang sistematis dan dapat bermanfaat secara umum. Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah manfaat praktis dan teoretis.
1.      Manfaat Praktis
Manfaat praktis dalam penelitian ini berguna sebagai pertimbangan untuk menambah referensi tentang ragam bahasa untuk mengasah sejauh mana peneliti menguasai bidang kajian yang diteliti dan diharapkan penelitian ini menambah ilmu pengetahuan tentang keragaman bahasa.Selain itu, diharapkan agar hasil penelitian ini bermanfaat bagi mahasiswa sebagai salah satu bahan presentasi di kelas.
2.      .Manfaat Teoretis
Secara teoretis penelitian ini berguna untuk menambah wawasan pengetahuan dalam bidang keragaman bahasa, karena dengan menganalisis lirik lagu yang terdapat pada karya tulis ilmiah, mahaiswa dapat diketahui proses pembentukan kata yang baik dan benar sesuai kaidah penulisan karya tulis ilmiah.


BAB II
ISI


1.     Kajian Pustaka


A.    Batasan dan Kajian Fonologi
           Istilah fonologi berasal dari bahasa Yunani yaitu phone= ‘bunyi’, logos= ‘ilmu’. Secara harfiah, fonologi adalah ilmu bunyi. Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fomen (fonemik). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
B.     Silaba (suku kata)
1.     Pengertian Silaba
Silaba adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran yang mempunyai puncak kenyaringan yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Satu silaba biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. (Abdul Chaer, 2002:123).
Silaba atau suku kata sudah lama dikenal, terutama dalam kaitanya dengan sistem penulisan. Sebelum alfabet lahir, sistem penulisan didasarkan atas suku kata ini, yang disebut tulisan silabari. Walaupun suku kata ini sudah didasari oleh penutur, tetapi dalam praktiknya sering terjadi kesimpangsiuran, terutama ketika dihadapkan pada penulisan. Hal ini karena adanya perbedaan orientasi tentang suku kata ini.



2.      Teori Tentang Silaba
Untuk memahami tentang silaba, para linguis atau fonetisi berdasarkan pada dua teori, yaitu : teori sonoritas dan teori prominans.

·         Teori Sonoritas
Teori sonoritas menjelaskan bahwa suatu rangkaian bunyi bahasa yang diucapkan oleh penutur selalu terdapat puncak-puncak kenyaringan (sonoritas) diantara bunyi-bunyi yang diucapkan. Puncak kenyaringan ini ditandai dengan denyutan dada yang menyebabkan paru-paru mendorong udara keluar. Satuan kenyaringan bunyi yang diikuti dengan satuan denyut dada yang menyebabkan udara keluar dari paru-paru inilah yang disebut satuan silaba atau suku kata.
Misalnya, ucapan kata bahasa Indonesia [mәndaki ] terdiri atas tiga puncak kenyaringan yang ditandai dengan tiga denyutan dada ketika kata itu diucapkan. Puncak kenyaringan itu adalah [ә] pada [mәn], [a] pada [da], dan [i] pada [ki]. Dengan demikian, kata [mәndaki] mempunyai tiga suku kata. Suku kata pertama berupa bunyi sonor [ә] yang didahului kontoid [m] dan diikuti kontoid [n]; suku kata kedua berupa bunyi sonor [a]  yang didahului kontoid [d]; dan suku kata ketiga berupa bunyi sonor [i] yang didahului kontoid [k].

·         Teori Prominans
Teori prominans menitikberatkan pada gabungan sonoritas dan ciri-ciri suprasegmental, terutama jeda (juncture). Ketika rangkaian bunyi itu diucapkan, selain terdengar satuan kenyaringan bunyi, juga terasa adanya jeda diantaranya, yaitu kesenyapan sebelum dan sesudah puncak kenyaringan. Atas anjuran teori ini, batas diantara bunyi-bunyi puncak itu diberi tanda  tambah [+]. Jadi, kata [mendaki] ditranskripsikan menjadi [mәn+da+ki]. Ini berarti, kata tersebut terdiri atas tiga suku kata. Dan dari sinilah silabisasi bisa diterapkan secara fonetis.

3.      Sonoritas
Sonoritas ( tingkat kenyaringan bunyi ) ialah satu gejala rekaman yang dapat ditangkap secara Audial ( pendengaran ) dan sebagian kecil bersifat intuitif.  Berdasarkan teori sonoritas dan teori prominans diketahui bahwa sebagian besar struktur suku kata terdiri atas satu bunyi sonor yang berupa vokoid, baik tidak didahului dan diikuti kontoid, didahului dan diikuti kontoid, didahului kontoid saja, atau diikuti oleh kontoid saja. Pernyataan itu bisa dirumuskan sebagai berikut:
            Rumus ini bisa dibaca: vokal merupakan unsur yang harus ada pada setiap suku kata, sedangkan konsonan merupakan unsur manasuka. Secara fonotaktik, bunyi puncak sonoritas suku kata yang biasanya berupa vokoid disebut nuklus (neucleus, N), kontoid yang mendahului nuklus disebut koda (coda, K). Dengan demikian, kalau rumusan itu dijabarkan akan menjadi struktur suku kata dan struktur fonotaktik dengan kemungkinan-kemungkinan berikut.

Struktur Suku Kata
Struktur Fonotaktik
Contoh
V
N
[a] pada [a+ku]
KV
ON
[si] pada [si+ku]
VK
NK
[em] pada [em+ber]
KVK
ONK
[tam] pada [tam+pa?]
KKV
OON
[pro] pada [pro+tes]
KKVK
OONK
[prak’] pada [prak’+tis]
KKVKK
OONKK
[pleks] pada [kOm+pleks]
VKK
NKK
[eks] pada [eks+pOr]
KVKK
ONKK
[seks] pada [seks]
KKKV
OOON
[stra] pada [stra+tә+gi]
KKKVK
OOONK
[struk’] pada [sruk’+tur]
                                             Tabel 1.1

4.      Macam-macam Silaba
Dalam prakteknya lebih lanjut, persoalaan penyukuan atau silabisasi bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) silabisasi fonetis, (2) silabisasi fonemis, dan (3) silabisasi morfologis.
1)    Silabisasi fonetis adalah penyukuan kata yang didasarkan pada realitas pengucapan yang ditandai oleh satuan hembusan nafas dan satuan bunyi sonor.
2)    Silabisasi fonemis adalah penyukuan kata yang didasarkan pada struktur fonem bahasa yang bersangkutan.
3)    Sedangkan silabisasi morfologis adalah penyukuan kata yang memperhatikan proses morfologis ketika kata itu dibentuk.
Sebagai perbandingan, perhatikan hasil silabisasi secara fonetis, silabisasi secara fonemis, dan silabisasi secara morfologis pada kata-kata bahasa Indonesia berikut.
Contoh Kata
Silabisasi Fonetis
Silabisasi Fonemis
Silabisasi Morfologi
Peruntukan
[#pә+run+tu+’an#]
/pә+run+tu+kan/
/per+un+tuk+an/
Mengajar
[#mә+ha+ajar#]
/mә+ha+jar/
/meng+a+jar/
Penguatan
[#pә+hu+wa+tan#]
/pә+hu+a+tan/
/pe+ngu+at+an/
Konsentrasi
[#kOn+sen+tra+si#]
/kon+sen+tra+si/
/kon+sen+tra+si/
Kebimbangan
[#kә+bim+ba+han#]
/kә+bim+ba+han/
[ke+bim+bang+an]
Tabel 1.2
Berkaitan dengan penyukuan kata ini, sering dijumpai sebuah bunyi yang ketika diucapkan dalam arus ujaran terdengar sebagai koda dan sebagai onset sekaligus. Kata ilustrasi, misalnya, yang diucapkan [ilustrasi], kalau disukukan berdasarkan syarat sonoritas dan prominans terdiri atas empat suku kata, [#i+lUs+stra+si#]. Dari hasil penyukuan tersebut terlihat bahwa bunyi [s] selain sebagai koda ( bunyi akhir / penutup pada sebuah bentuk )  pada suku kedua [lus] juga sebagai onset ( bunyi awal sebuah bentuk )  pada suku ketiga [stra]. Bunyi yang menduduki posisi mendua ini oleh Charles F. Hockett disebut interlude.
Untuk kepentingan fonotaktik, fenomena interlude ini perlu disikapi dengan jelas, sebab bunyi tersebut pada dasarnya hanyalah satu bunyi, bukan dua bunyi. Dengan demikian, posisinya pun harus jelas: sebagai koda atau sebagai onset. Untuk itu, perlu ditambahkan persyaratan lain, yaitu paralelisme. Dengan syarat paralelisme ini akan diketahui mana yang lebih banyak distribusi bunyi [s] yang berposisi sebagai koda dan yang berposisi sebagai onset. Dari hasil pengamatan ternyata distribusi bunyi [s] yang berposisi sebagai koda lebih banyak dari pada yang berposisi sebagai [onset] dalam kluster [str]. Oleh karena itu, dengan memperhatikan paralelisme tersebut, penyukuan [ilustrasi] adalah [#i+lUs+tra+si#].


C.    Klasifikasi Bunyi Vokoid
Bunyi vokoid dihasilkan dengan pelonggaran udara yang keluar dari  paru-paru, tanpa mendapatkan hambatan atau halangan. Penghasilan vokal, selain oleh hambatan dan gerakan lidah. Dalam gerakan bibir menghasilkan vokal, terdapat dua posisi yang  bulat  atau  tidak bulat. Yang tergolong posisi  bibir bulat yaitu [u], [o],. Yang tergolong posisi bibir tidak bulat yaitu [i], [e], [a], dan [ə].  Dalam gerakan lidah, dikenal dua macam gerakan lidah, yaitu gerakan lidah naik turun, dan gerakan lidah maju mundur. Gerak lidah naik turun menghasilkan tiga posisi yaitu: tinggi, sedang, rendah. Dari tiga posisi itu dihasilkan vokoid tinggi yaitu [i], [u], vokoid sedang, yaitu [e], [o], [ ], sedangkan posisi rendah, menghasilkan vokoid rendah, yaitu [a]. Dari gerakan lidah maju mundur diperoleh tiga posisi vokoid yaitu vokoid depan [i], [e], [ɛ], vokoid pusat [ə], [a] dan vokoid belakang [u], [o].



D.    Klasifikasi Bunyi Kontoid
Kontoid adalah bunyi bahasa yang pembentukannya aliran udara menemui berbagai hambatan atau penyempitan. Ciri kontoid lebih banyak ditentukan oleh sifat hambatan, tempat hambatan atau penyempitan arus udara. Ukuran untuk memerikan kontoid, yaitu titik artikulasi, posisi glotis, dan cara hambatan. Titik artikulasi adalah pertemuan antara artikulator aktif dan artikulator pasif. Dari keadaan ini diperoleh kontoid:  bilabial:  [b], [p], [m], [w], labiodental:  [v], [f],  apikodental:  [ɵ], lamino alveolar:  [d], [t], [n], [z], [s], [l], [r], lamino palatal
:  [j], [c], [Š], [ń], [y], [ ʃ  ],  dorsovelar:  [g], [k], [x], [ŋ], faringal [h], dan glotal: [?]. Posisi glotis yaitu keadaan pita suara, apakah terbuka atau tertutup. Jika glotis tertutup, akan menghasilkan kontoid bersuara, yaitu [b], [d], [g], dan jika posisi glotis terbuka, dihasilkan kontoid tak b ersuara, misalnya [p], [t], [k]. Ukuran cara hambatan, menghasilkan jenis-jenis kontoid:  hambat  [a, d, g, p, t, k],  frikatif  [v, f, z, s, x, h],  afrikat  [j], [c],  nasal  [m, n, ñ, ŋ],  getaran[r], sampingan [l].


2.     Pembahasan

BILA
Cipt: Oscar lolang

Bila mentari yang mega
Jatuh di ribaanku
Bila itu kan kusampaikan
Namun tak pantas karena kau terlalu indah
Inginku memagut
Dari belakang
Bersama pikirku yang terlampau dungu
Bilakah engkau datang
Ku dirasuki renjana
Tatkala petang datang
Kiranamu tak juga pudar


Tabel 2.1
Silaba
No
Contoh Kata
Struktur
Keterangan


Suku kata
Fonotatik

1
Bila
KV
O+N
[Bi] pada [Bi+la]
2
Mentari
KVK
O+N+K
[Men] pada [Men+ta+ri]
3
Yang
KVKK
O+N+K+K
[Yang]
4
Mega
KV
O+N
[Me] pada [Me+ga]
5
Jatuh
KV
O+N
[Ja] pada [Ja+tuh]
6
Di
KV
O+N
[Di]
7
Ribaanku
KV
O+N
[Ri] pada [Ri+ba+an+ku]
8
Itu
VKV
N+K+N
[Itu]
9
Kan
KVK
O+N+K
[Kan]
10
Kusampaikan
KV
O+N
[Ku] pada [Ku+sam+pai+kan]
11
Namun
KV
O+N
[Na] pada [Na+mun]
12
Tak
KVK
O+N+K
[Tak]
13
Pantas
KVK
O+N+K
[Pan] pada [Pan+tas]
14
Karena
KV
O+N
[Ka] pada [Ka+re+na]
15
Kau
KVV
O+N+N
[Kau]
16
Terlalu
KVK
O+N+K
[Ter] pada [Ter+la+lu]
17
Indah
VK
N+K
[In] pada [In+dah]
18
Inginku
VKK
N+K+K
[Ing] pada [Ing+in]
19
Memagut
KV
O+N
[Me] pada [Me+ma+gut]
20
Dari
KV
O+N
[Da] pada [Da+ri]
21
Belakang
KV
O+N
[Be] pada [Be+la+kang]
22
Bersama
KVK
O+N+K
[Ber] pada [Ber+sa+ma]
23
Pikirku
KV
O+N
[Pi] pada [Pi+kir+ku]
24
Terlampau
KVK
O+N+K
[Ter] pada [Ter+lam+pau]
25
Dungu
KV
O+N
[Du] pada [Du+ngu]
26
Bilakah
KV
O+N
[Bi] pada [Bi+la+kah]
27
Engkau
VKK
O+K+K
[Eng] pada [Eng+kau]
28
Datang
KV
O+N
[Da] pada [Da+tang]
29
Ku
KV
O+N
[Ku]
30
Dirasuki
KV
O+N
[Di] pada [Di+ra+su+ki]
31
Renjana
KVK
O+N+K
[Ren] pada [Ren+ja+na]
32
Tatkala
KVK
O+N+K
[Tat] pada [Tat+ka+la]
33
Petang
KV
O+N
[Pe] pada [Pe+tang]
34
Kiranamu
KV
O+N
[Ki] pada [Ki+ra+na+mu]
35
Juga
KV
O+N
[Ju] pada [Ju+ga]
36
Pudar
KV
O+N
[Pu] pada [Pu+dar]


Tabel 2.2
Analisis Fonem
No
Contoh Kata
Transkip Fonetis
1
Bila
[#bi+la#]
2
Mentari
[#məή+ta+ri#]
3
Yang
[#yAƞ#]
4
Mega
[#mɛ+ga#]
5
Jatuh
[#ja+tUh#]
6
Di
[#di#]
7
Ribaanku
[#ri+ba+an+ku#]
8
Itu
[#i+tU#]
9
Kan
[#kAn#]
10
Kusampaikan
[#ku+sAm+pAy+kAn#]
11
Namun
[#na+mUn#]
12
Tak
[#tA?#]
13
Pantas
[#pAή+tAs#]
14
Karena
[#ka+rə+na#]
15
Kau
[#kAw#]
16
Terlalu
[#tər+la+lu#]
17
Indah
[#iή+dAh#]
18
Inginku
[#i+ƞIn+ku#]
19
Memagut
[#mə+ma+gUt#]
20
Dari
[#da+ri#]
21
Belakang
[bə+la+kAƞ#]
22
Bersama
[#bər+sa+ma#]
23
Pikirku
[#Pi+kIr+ku#]
24
Terlampau
[#tər+lAm+pAw#]
25
Dungu
[#du+Ƞu#]
26
Bilakah
[#bi+la+kAh#]
27
Engkau
[#eƞ+kAw#]
28
Datang
[#da+tAƞ#]
29
Ku
[#ku#]
30
Dirasuki
[#di+ra+su+ki#]
31
Renjana
[#rəή+ja+na#]
32
Tatkala
[#tAt+ka+la#]
33
Petang
[#pə+tAƞ#]
34
Kiranamu
[#ki+ra+na+mu#]
35
Juga
[#ju+ga#]
36
Pudar
[#pu+dAr#]






Tabel 2.3
Tabel Bunyi Vokoid

Depan
Tengah
Belakang
Tinggi
I
o   Bila
o   Di
o   Ribaanku
o   Itu
o   Indah
o   Inginku
o   Pikirku
o   Bilakah
o   Dirasuki
o   Kiranamu

U
o   Jatuh
o   Ribaanku
o   Itu
o   Namun
o   Kau
o   Terlalu
o   Inginku
o   Memagut
o   Pikirku
o   Terlampau
o   Dungu
o   Engkau
o   Ku
o   Kiranamu
Agak Tinggi

ə
o   Mentari
o   Karena
o   Terlalu
o   Memagut
o   Belakang
o   Bersama
o   Terlampau
o   Engkau
o   Renjana
o   Petang

Agak Rendah
Ɛ
o   Mega

O
Rendah

A
o   Mentari
o   Yang
o   Ribaanku
o   Kan
o   Sampaikan
o   Tak
o   Pantas
o   Kau
o   Memagut
o   Belakang
o   Bersama
o   Terlampau
o   Bilakah
o   Engkau
o   Datang
o   Dirasuki
o   Renjana
o   Tatkala
o   Kiranamu









Tabel 2.4
Tabel Bunyi Kontoid

Bilabial
Labio dental
Dental
Alveolar
Palato alveolar
Palatal
velar
Glotal
Plosif
b p p’
bila,
pantas,
bersama,
pikirku,
belakang,
petang,
bilakah,
pudar,

t  t’ d
di,
tak,
dari,
terlalu,
dungu,
terlampau,
dungu,
datang,
tatkala,
dirasuki
tak, memagut’



g k k’
kan,
kusampaikan,
karena,
kau,
kiranamu,tak’


Afrikatif




c j
jatuh,
juga,



Frikatif

v f

s



x
h
Lateral



L




Trit



r
ribaanku,
renjana,




Flap








Nasal
m
mentari,
mega,
memagut,


n
namun,




Semi vokal





y
yang,





Tabel 2.5
Kesamaan Fonetis

No
Pasangan Kata

P – B
D – T
1
Pantas – Bila
Di – Tak
2
Pikirku – Bersama
Dari – Terlalu
3
Petang – Belakang
Dungu – Terlampau
4
Pudar – Bilakah
Datang – Tatkala
5

Dirasuki

T – T’
K – K’
1
Tak – Memagut
Kusampaikan – Tak
2
Terlalu
Ku
3
Terlampau
Kau
4
Tatkala
Karena
5

Kiranamu
6

Kan

L – R
M – N
1
Renjana
Mentari - Namun
2

Mega
3

Memagut

I – U
i – I
1
Inginku
Inginku – Pikirku
2
Itu
Itu – Inginku
3
Indah
Indah

Keterangan: Bunyi-bunyi dikatakan mempunyai kesamaan fonetis apabila terdapat    pada lajur yang sama, kolom yang sama, atau pada lajur dan kolom yang sama.

Tabel 2.6
Tidak Kesamaan Fonetis
Mohon maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis seperti bunyi [s], [c], dan [h]

Tabel 2.7
Bunyi-bunyi yang Berdistribusi Komplementer
No
P
P’
1
[#pAή+tAs#] ‘pantas’
-
2
[#pi+kIr+ku#] ‘pikirku’
-
3
[#pə+tAƞ#] ‘petang’
-
4
[#pu+dAr#] ‘pudar’
-

K
K’
1
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
[#tA?’#] ‘tak’
2
[#ku#] ‘ku’

3
[#kAn#] ‘kan’

4
[#kAw#] ‘kau’

5
[#ka+rə+na#] ‘karena’

6
[#ki+ra+na+mu#] ‘kirana’


T
T’
1
[#tA?#] ‘tak’
[#mə+ma+gUt’#] ‘memagut
2
[#tər+la+lu#] ‘terlalu’

3
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’

4
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’


D
D’
1
[#iή+dAh#] ‘indah’
-
2
[#da+ri#] ‘dari
-
3
[#du+Ƞu#] ‘dungu’
-
4
[#da+tAƞ#] ‘datang’
-
5
[#pu+dAr#] ‘pudar’
-
6
[#di#] ‘di’
-
7
[#di+ra+su+ki#] ‘dirasuki’
-

B
B’
1
[#ri+ba+an+ku#] ‘ribaanku’
-
2
[bə+la+kAƞ#] ‘belakang’
-
3
[#bər+sa+ma#] ‘bersama’
-

[#bi+la#] ‘bila’
-

[#bi+la+kAh#] ‘bilakah’
-

Keterangan: [p] [k] [t] [d] dan [b] sebagai onset silaba
                     [p’] [k’] [t’] [d’] dan [b’] sebagai koda silaba

Tabel 2.8
Bunyi-bunyi yang Bervariasi Bebas
No
Gelombang 1
Gelombang 2
Gelombang 3
1
[#pAή+tAs#]
[#pi+kIr+ku#]
[#fi+kIr+ku#]
2
[#pə+tAƞ#]


3
[#pu+dAr#]



Keterangan: [f] sebagai onset silaba dalam kata-kata golongan 2.
[p] sebagai onset silaba yang bervariasi bebas dengan [f] dalam kata-kata golongan 2.
[p] sebagai onset silaba dalam kata-kata golongan 1

Tabel 2.9
Bunyi-bunyi yang Berkontras dalam Lingkungan yang Sama (identis)
Mohon maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama (identis).

Tabel 2.10
Bunyi-bunyi yang Berkontras dalam Lingkungan yang mirip (analogis)
No
Kata
Analogis
1
[#pə+tAƞ#]
‘petang’
2
[#da+tAƞ#]
‘datang’

Keterangan: Lingkungan yang mirip adalah [#p...+tAƞ#] dan [#d...+tAƞ#] jadi [ə] dan [a] adalah alofon dari fonem yang berbeda.
Tabel 2.11
Bunyi-bunyi yang Berubah Karena Lingkungan
No
[k] : Plosif, velar mati
[k’] : Plosif, palatal mati
1
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
[#Pi+k’Ir+ku#] ‘pikirku’
2
[#ku#] ‘ku’
[#di+ra+su+k’i#] ‘dirasuki’
3
[#ri+ba+an+ku#] ‘ribaanku’
[#k’i+ra+na+mu#] ‘kiranamu’
4
[#kAn#] ‘kan’

5
[#kAw#] ‘kau’

6
[#ka+rə+na#] ‘karena’


P
P’
1
[#pAή+tAs#] ‘pantas’
[#p’i+kIr+ku#] ‘pikirku’
2
[#pə+tAƞ#] ‘petang’

3
[#pu+dAr#] ‘pudar’

4
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’

5
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’


T
T’
1
[#tA?#] ‘tak’
[#ja+t’Uh#] ‘jatuh’
2
[#tər+la+lu#] ‘terlalu’
-
3
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’
-
4
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’
-
5
[#məή+ta+ri#] ‘mentari
-
6
[#ja+tUh#] ‘jatuh’
-
7
[#i+tU#] ‘itu’
-
8
[#da+tAƞ#] ‘datang’
-

D
D’
1
[#iή+dAh#] ‘indah’
[#d’i#] ‘di’
2
[#da+ri#] ‘dari
[#d’i+ra+su+ki#] ‘dirasuki’
3
[#du+Ƞu#] ‘dungu’

4
[#da+tAƞ#] ‘datang’

5
[#pu+dAr#] ‘pudar’


B
B’
1
[#ri+ba+an+ku#] ‘ribaanku’
[#b’i+la#] ‘bila’
2
[bə+la+kAƞ#] ‘belakang’
[#b’i+la+kAh#] ‘bilakah’
3
[#bər+sa+ma#] ‘bersama’


Keterangan: [k] [p] [t] [d] dan [b] jika diikuti oleh vokoid tengah dan belakang.
[k’] [p’] [t’] [d’] dan [b’] jika diikuti vokoid depan.

Tabel 2.12
Bunyi-bunyi dalam Inventori Fonetis, Fonemis, Condong menyebar secara simetris
No
[t]
[t’]
1
[#məή+ta+ri#] ‘mentari’
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’
2
[#ja+tUh#] ‘jatuh’

3
[#tA?#] ‘tak’

4
[#pAή+tAs#] ‘pantas’

5
[#tər+la+lu#] ‘terlalu’

6
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’

7
[#da+tAƞ#] ‘datang’

8
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’

9
[#pə+tAƞ#] ‘petang’


K
K’

[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
[#tA?’#] ‘tak’

[#ku#] ‘ku’


[#kAn#] ‘kan’


[#kAw#] ‘kau’


[#ka+rə+na#] ‘karena’


[#ki+ra+na+mu#] ‘kirana’


Keterangan: [t] dan [k] sebagai onset silaba.
[t’] dan [k] sebagai koda silaba.

Tabel 2.13
Bunyi-bunyi yang Berfluktuasi
Mohon maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi yang berfluktuasi.

Tabel 2.14
Bunyi-bunyi Selebihnya sebagai Fonem Tersendiri
Mohon maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi sebagai fomen tersendiri seperti bunyi [s], [c], dan [h].





BAB III
PENUTUP


1.      Kesimpulan
Fonemik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa dengan memperhatikan apakah bunyi tesebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sebagai mana diketahui bahwa fonemik sacara fungsional dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik mengkhususkan perhatianya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah  bunyi bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya memfokuskan  bagaimana bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara maupun dari segi tempat artikulasinya.
Salah satu cara untuk mengetahui bahwa kesatuan bunyi terkecil tersebut  berfungsi sebagai pembeda makna cara yang bisa ditempuh adalah melakukan pembuktian secara empiris, yaitu dengan membandidngkan  bentuk-bentuk linguistik bahasa yang diteliti. Dengan demikian, kalau kita ingin mengetahui fungsi bunyi bahsa Indonesia, misalnya, kita harus membandingkan bentuk-bentuk linguistik bahasa indonesia
Dengan melakukan sebuah analisis fonem dalam lirik lagu Bila karya Oscar Lolang, kita dapat mengetahui runtutan bunyi ujaran yang mempunyai puncak kenyaringan yang biasanya jatuh pada sebuah vokal, dan dapat mengetahui berbagai hambatan yang ada pada sebuah kata dan sumber bunyi yang ada di dalam tubuh yang ada dalam lirik lagu tersebut.

2.      Saran
Melakukan analisis lirik lagu memerlukan konstrasi yang tinggi, oleh karena itu kita harus selalu fokus saat menganalisis sebuah lirik lagu.


DAFTAR PUSTAKA

Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia
Jakarta: PT Bumi Aksara

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia
Jakarta: Rineka Cipta

https://www.academia.edu/8105918/MAKALAH_FONEM

















 


Komentar

Kalian perlu tahu

Cara Terbaik Memaksimalkan Efek Fading pada Denim

  Sumber: Denim Enthusiast Group Line Denim heads pasti sudah tidak asing dengan kata" fading ". Singkatnya fading adalah perubahan warna biru dari tanaman indigofera pada denim di bagian-bagian tertentu. Menurut Darahkubiru.com, situs tentang denim lifestyle, hal ini ada benarnya, karena fading pada dasarnya terjadi karena adanya gesekan pada bagian-bagian tertentu pada jeans yang mengakibatkan indigo terlepas dari jeans. Proses fading pada denim terbilang cukup lama sehingga butuh waktu berbulan-bulan dan konsisten dalam pemakaian denim. Selain terbentuk karena proses pemakaian, fading pada denim sebenarnya sangat dipengaruhi oleh cara pencucian yang diterapkan. Asal tahu teknik dan cara yang benar, dapat dipastikan efek fading pada denim yang terbentuk akan terlihat cantik/keren saat dipandang. Itulah menjadikan fading adalah sebuah seni dalam pemakaian denim. Mau tahu bagaimana cara terbaik untuk memaksimalkan efek fading pada denim? Berikut lima cara menghasilk...

Karya Tulis Ilmiah Analisis Sejarah Sastra

CINTA DAN ALAM DALAM PUISI SOE HOK GIE YANG BERJUDUL CAHAYA BULAN: TINJAUAN STRUKTURALISME SASTRA Arif Syamsul Ma’Arif, 185030086, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pasundan, Bandung, 2018 Email: arifanami26@gmail.com Abstrak Di tengah berbagai puisi tentang nasionalisme, Gie juga dihadapkan pada situasi yang dinamakan cinta kepada perempuan, meskipun kisah percintaan Gie dapat dikatakakan tragis. Kisah cinta Gie juga dapat disandingkan dengan kecintaannya terhadap alam, khususnya lembah Mandalawangi. Dalam puisi “Cahaya Bulan” karya Soe Hok Gie tersebut membahas tentang cintanya terhadap alam akan keindahan lembah Mandalawangi di gunung Pangrango dan perempuan . Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan strukturalisme karena puisi ini membahas tentang struktur yang ada dalam karya sastra itu sendiri. Oleh karena itu penulis akan memaparkan puisi “Cahaya Bulan” karya Soe Hok Gie. Kata k...

Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu Polka Wars: Bunga (Kajian Semantik)

Bahasa menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang memudahkan untuk berinteraksi antara satu sama lain. Bahasa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer; digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sedangkan Chaer (2002:30) berpendapat bahwa bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya – semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga sebagai alat untuk mengekspresikan jiwa, perasaan, gagasan, ide, dan emosi manusia. Biasanya, cara manusia untuk menyampaikan perasaan akan menggunakan kata-kata yang indah seperti puisi, syair, hingga lagu. Lagu menurut KBBI adalah ragam suara yang berirama (dalam bercakap, bernyanyi, membaca, dsb) yang diiringi oleh instru...