ANALISIS
FONEM DALAM LIRIK LAGU BILA KARYA OSCAR LOLANG
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Fonologi
Bu
Frilia Santika Regina, M.Pd.
Disusun
Oleh :
Arif
Syamsul Ma’arif
NPM
: 185030086
Kelas
: B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PASUNDAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
Hidayah, Inayah dan Rahmat-Nya sehingga saya mampu menyelesaikan penyusunan
makalah Fonologi dengan judul “Analisis Fonem dalam Lirik Lagu Bila Karya Oscar
Lolang” tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah
sudah saya lakukan semaksimal mungkin dengan dukungan dari banyak pihak,
sehingga bisa memudahkan dalam penyusunannya. Untuk itu saya pun tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Frilia Santika Regina, M.Pd. yang telah
membimbing dalam proses pembelajaran, dan juga berbagai pihak yang sudah
membantu saya dalam rangka menyelesaikan makalah ini.
Tetapi tidak lepas
dari semua itu, saya sadar sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa serta aspek-aspek lainnya.
Maka dari itu, dengan lapang dada saya membuka seluas-luasnya pintu bagi para
pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi penyempurnaan makalah
ini.
Akhirnya penyusun
sangat berharap semoga dari makalah yang sederhana ini bisa bermanfaat dan juga
besar keinginan saya bisa menginspirasi para pembaca untuk mengangkat berbagai
permasalah lainnya yang masih berhubungan pada makalah-makalah berikutnya.
Bandung,
15 Mei 2019
Penulis
Daftar
Isi
Kata
Pengantar.................................................................................................
i
Daftar
Isi...........................................................................................................
ii
BAB
I : Pendahuluan
A. Latar Belakang
Masalah...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 2
C.
Tujuan................................................................................................... 3
D. Manfaat................................................................................................ 4
BAB II : ISI
1. Kajian Pustaka...................................................................................... 5
2. Pembahasan..........................................................................................
11
3. Lirik Lagu.............................................................................................
11
4. Analisis Lirik Lagu Berdasarkan Silaba...............................................
12
5. Analisis Lirik Lagu Berdasarkan Fonem.............................................
13
6. Bunyi Vokoid.......................................................................................
15
7. Bunyi Kontoid......................................................................................
17
8. Mencatat bunyi karena mempunyai kesamaan fonetis........................ 18
9. Mencatat bunyi karena tidak mempunyai kesamaan fonetis............... 19
10. Mencatat bunyi yang berdistribusi komplementer............................... 19
11. Mencatat bunyi yang bervariasi bebas ................................................ 21
12. Mencatat bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama
......... 21
13. Mencatat bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang
mirip ......... 21
14. Mencatat bunyi yang berubah karena lingkungan................................ 22
15. Mencatat bunyi dalam inventori fonetis, fonemis, condong
menyebar secara simetris 23
16. Mencatat bunyi yang berfluktuasi........................................................ 24
17. Mencatat bunyi yang selebihnya sebagai fonem sendiri...................... 24
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................
25
B. Saran.....................................................................................................
25
Daftar pustaka......................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Bahasa
merupakan alat interaksi dan alat komunikasi verbal yang hanya dimiliki manusia,
bahasa dapat dikaji melalui struktur fonologi. Fonologi adalah ilmu tentang
perbendaharaan bunyi-bunyi bahasa dan distribusinya. Unsur bahasa yang terkecil
berupa lambang bunyi ujaran disebut fonem. Fonem dihasilkan oleh alat ucap
manusiayang dikenal dengan artikulasi. kajian ini dilakukan dengan menggunakan
teori-teori dan prosedur-prosedur yang ada dalam disiplin linguistik saja.
Karya
ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil dari
penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim
dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh
masyarakat keilmuan.
Jadi, dapat disimpulkan belajar menulis
karya ilmiah itu sangat penting. Supaya di setiap proses dan tahapannya sesuai
dengan aturan yang berlaku. Selain itu, pentingnya belajar menulis karya ilmiah
juga dapat memperjelas sasaran atau tujuan dilaksanakannya penelitian sehingga
dalam pembahasannya dapat disampaikan secara tepat dan mudah dipahami oleh
pembaca. Sehingga saya membuat makalah penulisan karya ilmiah ini sebagai bahan
pembelajaran.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka saya merasa tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai analisis sebuah lirik lagu yang berjudul “Bila” ciptaannya Oscar
Lolang.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah, maka ada empat belas rumusan masalah dalam penelitian
ini yaitu sebagai berikut.
1. Apa
saja silaba dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
2. Apa
saja analisis fomem dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
3. Apa
saja vokoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
4. Apa
saja kontoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
5. Apa
saja bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan
Oscar Lolang?
6. Apa
saja bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila”
ciptaan Oscar Lolang?
7. Apa
saja bunyi yang berdistribusi komplementer dalam lirik lagu “Bila” ciptaan
Oscar Lolang?
8. Apa
saja bunyi yang bervariasi bebas dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
9. Apa
saja bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama dalam lirik lagu “Bila”
ciptaan Oscar Lolang?
10. Apa
saja bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip dalam lirik lagu “Bila”
ciptaan Oscar Lolang?
11. Apa
saja bunyi yang berubah karena lingkungan dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar
Lolang?
12. Apa
saja bunyi dalam inventori fonetis, fonemis, condong menyebar secara simetris
dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
13. Apa
saja bunyi berfluktuasi dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang?
14. Apa
saja bunyi yang selebihnya seagai fonem tersendiri dalam lirik lagu “Bila”
ciptaan Oscar Lolang?
C.
Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini memiliki empat belas tujuan yang ingin dicapai, yaitu sebagai berikut.
1. Mengetahui
silaba dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
2. Mengetahui
analisis fonem dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
3. Mengetahui
vokoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
4. Mengetahui
kontoid dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
5. Mengetahui
bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar
Lolang.
6. Mengetahui
bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis dalam lirik lagu “Bila” ciptaan
Oscar Lolang.
7. Mengetahui
bunyi yang berdistribusi komplementer dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar
Lolang.
8. Mengetahui
bunyi yang bervariasi bebas dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
9. Mengetahui
bunyi yang berkontras pada lingkungan yang sama dalam lirik lagu “Bila” ciptaan
Oscar Lolang.
10. Mengetahui
bunyi yang berkontras pada lingkungan yang mirp dalam lirik lagu “Bila” ciptaan
Oscar Lolang.
11. Mengetahui
bunyi yang berubah karena lingkungan dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar
Lolang.
12. Mengetahui
bunyi dalam inventori fonetis, fonemis, condong menyabar secara simetris dalam
lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
13. Mengetahui
bunyi yang berfluktuasi dalam lirik lagu “Bila” ciptaan Oscar Lolang.
14. Mengetahui
bunyi yang selebihnya sebagai fonem tersendiri dalam lirik lagu “Bila” ciptaan
Oscar Lolang.
D.
Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat berhasil dengan baik, yaitu dapat mencapai tujuan secara
optimal. Dapat menghasilkan laporan yang sistematis dan dapat bermanfaat secara
umum. Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah manfaat praktis
dan teoretis.
1. Manfaat
Praktis
Manfaat
praktis dalam penelitian ini berguna sebagai pertimbangan untuk menambah referensi
tentang ragam bahasa untuk mengasah sejauh mana peneliti menguasai bidang
kajian yang diteliti dan diharapkan penelitian ini menambah ilmu pengetahuan tentang
keragaman bahasa.Selain itu, diharapkan agar hasil penelitian ini bermanfaat
bagi mahasiswa sebagai salah satu bahan presentasi di kelas.
2. .Manfaat
Teoretis
Secara
teoretis penelitian ini berguna untuk menambah wawasan pengetahuan dalam bidang
keragaman bahasa, karena dengan menganalisis lirik lagu yang terdapat pada
karya tulis ilmiah, mahaiswa dapat diketahui proses pembentukan kata yang baik
dan benar sesuai kaidah penulisan karya tulis ilmiah.
BAB II
ISI
1.
Kajian
Pustaka
A.
Batasan
dan Kajian Fonologi
Istilah fonologi berasal dari bahasa
Yunani yaitu phone= ‘bunyi’, logos= ‘ilmu’. Secara harfiah, fonologi adalah
ilmu bunyi. Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi.
Objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi
(fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fomen (fonemik).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa
(linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan
perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
B.
Silaba
(suku kata)
1.
Pengertian
Silaba
Silaba
adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi
ujaran yang mempunyai puncak kenyaringan yang biasanya jatuh pada sebuah vokal.
Satu silaba biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan
atau lebih. (Abdul Chaer, 2002:123).
Silaba
atau suku kata sudah lama dikenal, terutama dalam kaitanya dengan sistem
penulisan. Sebelum alfabet lahir, sistem penulisan didasarkan atas suku kata
ini, yang disebut tulisan silabari. Walaupun suku kata ini sudah didasari oleh
penutur, tetapi dalam praktiknya sering terjadi kesimpangsiuran, terutama
ketika dihadapkan pada penulisan. Hal ini karena adanya perbedaan orientasi
tentang suku kata ini.
2. Teori Tentang Silaba
Untuk
memahami tentang silaba, para linguis atau fonetisi berdasarkan pada dua teori,
yaitu : teori sonoritas dan teori prominans.
·
Teori
Sonoritas
Teori
sonoritas menjelaskan bahwa suatu rangkaian bunyi bahasa yang diucapkan oleh
penutur selalu terdapat puncak-puncak kenyaringan (sonoritas) diantara
bunyi-bunyi yang diucapkan. Puncak kenyaringan ini ditandai dengan denyutan
dada yang menyebabkan paru-paru mendorong udara keluar. Satuan kenyaringan
bunyi yang diikuti dengan satuan denyut dada yang menyebabkan udara keluar dari
paru-paru inilah yang disebut satuan silaba atau suku kata.
Misalnya, ucapan kata bahasa
Indonesia [mәndaki ] terdiri atas tiga puncak kenyaringan yang ditandai dengan
tiga denyutan dada ketika kata itu diucapkan. Puncak kenyaringan itu adalah [ә]
pada [mәn], [a] pada [da], dan [i] pada [ki]. Dengan demikian, kata [mәndaki]
mempunyai tiga suku kata. Suku kata pertama berupa bunyi sonor [ә] yang
didahului kontoid [m] dan diikuti kontoid [n]; suku kata kedua berupa bunyi
sonor [a] yang didahului kontoid [d];
dan suku kata ketiga berupa bunyi sonor [i] yang didahului kontoid [k].
·
Teori
Prominans
Teori
prominans menitikberatkan pada gabungan sonoritas dan ciri-ciri suprasegmental,
terutama jeda (juncture). Ketika rangkaian bunyi itu diucapkan, selain
terdengar satuan kenyaringan bunyi, juga terasa adanya jeda diantaranya, yaitu
kesenyapan sebelum dan sesudah puncak kenyaringan. Atas anjuran teori ini,
batas diantara bunyi-bunyi puncak itu diberi tanda tambah [+]. Jadi, kata [mendaki]
ditranskripsikan menjadi [mәn+da+ki]. Ini berarti, kata tersebut terdiri atas
tiga suku kata. Dan dari sinilah silabisasi bisa diterapkan secara fonetis.
3.
Sonoritas
Sonoritas (
tingkat kenyaringan bunyi ) ialah satu gejala rekaman yang dapat
ditangkap secara Audial ( pendengaran ) dan sebagian kecil bersifat
intuitif. Berdasarkan teori sonoritas dan teori prominans diketahui
bahwa sebagian besar struktur suku kata terdiri atas satu bunyi sonor yang
berupa vokoid, baik tidak didahului dan diikuti kontoid, didahului
dan diikuti kontoid, didahului kontoid saja, atau diikuti oleh kontoid saja.
Pernyataan itu bisa dirumuskan sebagai berikut:
Rumus ini bisa dibaca: vokal merupakan
unsur yang harus ada pada setiap suku kata, sedangkan konsonan merupakan
unsur manasuka. Secara fonotaktik, bunyi puncak sonoritas suku kata yang
biasanya berupa vokoid disebut nuklus (neucleus, N), kontoid yang
mendahului nuklus disebut koda (coda, K). Dengan
demikian, kalau rumusan itu dijabarkan akan menjadi struktur suku kata dan
struktur fonotaktik dengan kemungkinan-kemungkinan berikut.
Struktur Suku Kata
|
Struktur Fonotaktik
|
Contoh
|
V
|
N
|
[a]
pada [a+ku]
|
KV
|
ON
|
[si]
pada [si+ku]
|
VK
|
NK
|
[em] pada
[em+ber]
|
KVK
|
ONK
|
[tam]
pada [tam+pa?]
|
KKV
|
OON
|
[pro]
pada [pro+tes]
|
KKVK
|
OONK
|
[prak’]
pada [prak’+tis]
|
KKVKK
|
OONKK
|
[pleks]
pada [kOm+pleks]
|
VKK
|
NKK
|
[eks]
pada [eks+pOr]
|
KVKK
|
ONKK
|
[seks]
pada [seks]
|
KKKV
|
OOON
|
[stra]
pada [stra+tә+gi]
|
KKKVK
|
OOONK
|
[struk’]
pada [sruk’+tur]
|
Tabel
1.1
4.
Macam-macam
Silaba
Dalam
prakteknya lebih lanjut, persoalaan penyukuan atau silabisasi bisa dibedakan
menjadi tiga, yaitu (1) silabisasi fonetis, (2) silabisasi fonemis, dan (3)
silabisasi morfologis.
1)
Silabisasi fonetis adalah penyukuan kata
yang didasarkan pada realitas pengucapan yang ditandai oleh satuan hembusan
nafas dan satuan bunyi sonor.
2)
Silabisasi fonemis adalah penyukuan kata
yang didasarkan pada struktur fonem bahasa yang bersangkutan.
3)
Sedangkan silabisasi morfologis adalah
penyukuan kata yang memperhatikan proses morfologis ketika kata itu dibentuk.
Sebagai perbandingan, perhatikan
hasil silabisasi secara fonetis, silabisasi secara fonemis, dan silabisasi
secara morfologis pada kata-kata bahasa Indonesia berikut.
Contoh Kata
|
Silabisasi
Fonetis
|
Silabisasi
Fonemis
|
Silabisasi
Morfologi
|
Peruntukan
|
[#pә+run+tu+’an#]
|
/pә+run+tu+kan/
|
/per+un+tuk+an/
|
Mengajar
|
[#mә+ha+ajar#]
|
/mә+ha+jar/
|
/meng+a+jar/
|
Penguatan
|
[#pә+hu+wa+tan#]
|
/pә+hu+a+tan/
|
/pe+ngu+at+an/
|
Konsentrasi
|
[#kOn+sen+tra+si#]
|
/kon+sen+tra+si/
|
/kon+sen+tra+si/
|
Kebimbangan
|
[#kә+bim+ba+han#]
|
/kә+bim+ba+han/
|
[ke+bim+bang+an]
|
Tabel
1.2
Berkaitan
dengan penyukuan kata ini, sering dijumpai sebuah bunyi yang ketika diucapkan
dalam arus ujaran terdengar sebagai koda dan sebagai onset sekaligus. Kata
ilustrasi, misalnya, yang diucapkan [ilustrasi], kalau disukukan berdasarkan
syarat sonoritas dan prominans terdiri atas empat suku kata, [#i+lUs+stra+si#].
Dari hasil penyukuan tersebut terlihat bahwa bunyi [s] selain sebagai koda (
bunyi akhir / penutup pada sebuah bentuk )
pada suku kedua [lus] juga sebagai onset ( bunyi awal sebuah bentuk
) pada suku ketiga [stra]. Bunyi yang
menduduki posisi mendua ini oleh Charles F. Hockett disebut interlude.
Untuk
kepentingan fonotaktik, fenomena interlude ini perlu disikapi dengan jelas,
sebab bunyi tersebut pada dasarnya hanyalah satu bunyi, bukan dua bunyi. Dengan
demikian, posisinya pun harus jelas: sebagai koda atau sebagai onset. Untuk
itu, perlu ditambahkan persyaratan lain, yaitu paralelisme. Dengan syarat
paralelisme ini akan diketahui mana yang lebih banyak distribusi bunyi [s] yang
berposisi sebagai koda dan yang berposisi sebagai onset. Dari hasil pengamatan
ternyata distribusi bunyi [s] yang berposisi sebagai koda lebih banyak dari
pada yang berposisi sebagai [onset] dalam kluster [str]. Oleh karena itu,
dengan memperhatikan paralelisme tersebut, penyukuan [ilustrasi] adalah [#i+lUs+tra+si#].
C. Klasifikasi Bunyi Vokoid
Bunyi
vokoid dihasilkan dengan pelonggaran udara yang keluar dari paru-paru, tanpa mendapatkan hambatan atau
halangan. Penghasilan vokal, selain oleh hambatan dan gerakan lidah. Dalam
gerakan bibir menghasilkan vokal, terdapat dua posisi yang bulat
atau tidak bulat. Yang tergolong
posisi bibir bulat yaitu [u], [o],. Yang
tergolong posisi bibir tidak bulat yaitu [i], [e], [a], dan [ə]. Dalam gerakan lidah, dikenal dua macam
gerakan lidah, yaitu gerakan lidah naik turun, dan gerakan lidah maju mundur. Gerak
lidah naik turun menghasilkan tiga posisi yaitu: tinggi, sedang, rendah. Dari
tiga posisi itu dihasilkan vokoid tinggi yaitu [i], [u], vokoid sedang, yaitu
[e], [o], [ ], sedangkan posisi rendah, menghasilkan vokoid rendah, yaitu [a].
Dari gerakan lidah maju mundur diperoleh tiga posisi vokoid yaitu vokoid depan
[i], [e], [ɛ], vokoid pusat [ə], [a] dan vokoid belakang [u], [o].
D. Klasifikasi Bunyi Kontoid
Kontoid
adalah bunyi bahasa yang pembentukannya aliran udara menemui berbagai hambatan
atau penyempitan. Ciri kontoid lebih banyak ditentukan oleh sifat hambatan,
tempat hambatan atau penyempitan arus udara. Ukuran untuk memerikan kontoid,
yaitu titik artikulasi, posisi glotis, dan cara hambatan. Titik artikulasi
adalah pertemuan antara artikulator aktif dan artikulator pasif. Dari keadaan
ini diperoleh kontoid: bilabial: [b], [p], [m], [w], labiodental: [v], [f],
apikodental: [ɵ], lamino
alveolar: [d], [t], [n], [z], [s], [l],
[r], lamino palatal
: [j],
[c], [Š], [ń], [y], [ ʃ ], dorsovelar:
[g], [k], [x], [ŋ], faringal [h], dan glotal: [?]. Posisi glotis yaitu
keadaan pita suara, apakah terbuka atau tertutup. Jika glotis tertutup, akan
menghasilkan kontoid bersuara, yaitu [b], [d], [g], dan jika posisi glotis
terbuka, dihasilkan kontoid tak b ersuara, misalnya [p], [t], [k]. Ukuran cara
hambatan, menghasilkan jenis-jenis kontoid:
hambat [a, d, g, p, t, k], frikatif
[v, f, z, s, x, h], afrikat [j], [c],
nasal [m, n, ñ, ŋ], getaran[r], sampingan [l].
2. Pembahasan
BILA
Cipt:
Oscar lolang
Bila mentari yang mega
Jatuh di ribaanku
Bila itu kan kusampaikan
Namun tak pantas karena
kau terlalu indah
Inginku memagut
Dari belakang
Bersama pikirku yang
terlampau dungu
Bilakah engkau datang
Ku dirasuki renjana
Tatkala petang datang
Kiranamu tak juga pudar
Tabel 2.1
Silaba
No
|
Contoh
Kata
|
Struktur
|
Keterangan
|
|
Suku
kata
|
Fonotatik
|
|||
1
|
Bila
|
KV
|
O+N
|
[Bi] pada [Bi+la]
|
2
|
Mentari
|
KVK
|
O+N+K
|
[Men] pada [Men+ta+ri]
|
3
|
Yang
|
KVKK
|
O+N+K+K
|
[Yang]
|
4
|
Mega
|
KV
|
O+N
|
[Me] pada [Me+ga]
|
5
|
Jatuh
|
KV
|
O+N
|
[Ja] pada [Ja+tuh]
|
6
|
Di
|
KV
|
O+N
|
[Di]
|
7
|
Ribaanku
|
KV
|
O+N
|
[Ri] pada [Ri+ba+an+ku]
|
8
|
Itu
|
VKV
|
N+K+N
|
[Itu]
|
9
|
Kan
|
KVK
|
O+N+K
|
[Kan]
|
10
|
Kusampaikan
|
KV
|
O+N
|
[Ku] pada [Ku+sam+pai+kan]
|
11
|
Namun
|
KV
|
O+N
|
[Na] pada [Na+mun]
|
12
|
Tak
|
KVK
|
O+N+K
|
[Tak]
|
13
|
Pantas
|
KVK
|
O+N+K
|
[Pan] pada [Pan+tas]
|
14
|
Karena
|
KV
|
O+N
|
[Ka] pada [Ka+re+na]
|
15
|
Kau
|
KVV
|
O+N+N
|
[Kau]
|
16
|
Terlalu
|
KVK
|
O+N+K
|
[Ter] pada [Ter+la+lu]
|
17
|
Indah
|
VK
|
N+K
|
[In] pada [In+dah]
|
18
|
Inginku
|
VKK
|
N+K+K
|
[Ing] pada [Ing+in]
|
19
|
Memagut
|
KV
|
O+N
|
[Me] pada [Me+ma+gut]
|
20
|
Dari
|
KV
|
O+N
|
[Da] pada [Da+ri]
|
21
|
Belakang
|
KV
|
O+N
|
[Be] pada [Be+la+kang]
|
22
|
Bersama
|
KVK
|
O+N+K
|
[Ber] pada [Ber+sa+ma]
|
23
|
Pikirku
|
KV
|
O+N
|
[Pi] pada [Pi+kir+ku]
|
24
|
Terlampau
|
KVK
|
O+N+K
|
[Ter] pada [Ter+lam+pau]
|
25
|
Dungu
|
KV
|
O+N
|
[Du] pada [Du+ngu]
|
26
|
Bilakah
|
KV
|
O+N
|
[Bi] pada [Bi+la+kah]
|
27
|
Engkau
|
VKK
|
O+K+K
|
[Eng] pada [Eng+kau]
|
28
|
Datang
|
KV
|
O+N
|
[Da] pada [Da+tang]
|
29
|
Ku
|
KV
|
O+N
|
[Ku]
|
30
|
Dirasuki
|
KV
|
O+N
|
[Di] pada [Di+ra+su+ki]
|
31
|
Renjana
|
KVK
|
O+N+K
|
[Ren] pada [Ren+ja+na]
|
32
|
Tatkala
|
KVK
|
O+N+K
|
[Tat] pada [Tat+ka+la]
|
33
|
Petang
|
KV
|
O+N
|
[Pe] pada [Pe+tang]
|
34
|
Kiranamu
|
KV
|
O+N
|
[Ki] pada [Ki+ra+na+mu]
|
35
|
Juga
|
KV
|
O+N
|
[Ju] pada [Ju+ga]
|
36
|
Pudar
|
KV
|
O+N
|
[Pu] pada [Pu+dar]
|
Tabel 2.2
Analisis Fonem
No
|
Contoh
Kata
|
Transkip
Fonetis
|
1
|
Bila
|
[#bi+la#]
|
2
|
Mentari
|
[#məή+ta+ri#]
|
3
|
Yang
|
[#yAƞ#]
|
4
|
Mega
|
[#mɛ+ga#]
|
5
|
Jatuh
|
[#ja+tUh#]
|
6
|
Di
|
[#di#]
|
7
|
Ribaanku
|
[#ri+ba+an+ku#]
|
8
|
Itu
|
[#i+tU#]
|
9
|
Kan
|
[#kAn#]
|
10
|
Kusampaikan
|
[#ku+sAm+pAy+kAn#]
|
11
|
Namun
|
[#na+mUn#]
|
12
|
Tak
|
[#tA?#]
|
13
|
Pantas
|
[#pAή+tAs#]
|
14
|
Karena
|
[#ka+rə+na#]
|
15
|
Kau
|
[#kAw#]
|
16
|
Terlalu
|
[#tər+la+lu#]
|
17
|
Indah
|
[#iή+dAh#]
|
18
|
Inginku
|
[#i+ƞIn+ku#]
|
19
|
Memagut
|
[#mə+ma+gUt#]
|
20
|
Dari
|
[#da+ri#]
|
21
|
Belakang
|
[bə+la+kAƞ#]
|
22
|
Bersama
|
[#bər+sa+ma#]
|
23
|
Pikirku
|
[#Pi+kIr+ku#]
|
24
|
Terlampau
|
[#tər+lAm+pAw#]
|
25
|
Dungu
|
[#du+Ƞu#]
|
26
|
Bilakah
|
[#bi+la+kAh#]
|
27
|
Engkau
|
[#eƞ+kAw#]
|
28
|
Datang
|
[#da+tAƞ#]
|
29
|
Ku
|
[#ku#]
|
30
|
Dirasuki
|
[#di+ra+su+ki#]
|
31
|
Renjana
|
[#rəή+ja+na#]
|
32
|
Tatkala
|
[#tAt+ka+la#]
|
33
|
Petang
|
[#pə+tAƞ#]
|
34
|
Kiranamu
|
[#ki+ra+na+mu#]
|
35
|
Juga
|
[#ju+ga#]
|
36
|
Pudar
|
[#pu+dAr#]
|
Tabel 2.3
Tabel Bunyi Vokoid
Depan
|
Tengah
|
Belakang
|
|
Tinggi
|
I
o
Bila
o
Di
o
Ribaanku
o
Itu
o
Indah
o
Inginku
o
Pikirku
o
Bilakah
o
Dirasuki
o
Kiranamu
|
U
o
Jatuh
o
Ribaanku
o
Itu
o
Namun
o
Kau
o
Terlalu
o
Inginku
o
Memagut
o
Pikirku
o
Terlampau
o
Dungu
o
Engkau
o
Ku
o
Kiranamu
|
|
Agak Tinggi
|
ə
o
Mentari
o
Karena
o
Terlalu
o
Memagut
o
Belakang
o
Bersama
o
Terlampau
o
Engkau
o
Renjana
o
Petang
|
||
Agak Rendah
|
Ɛ
o Mega
|
O
|
|
Rendah
|
A
o
Mentari
o
Yang
o
Ribaanku
o
Kan
o
Sampaikan
o
Tak
o
Pantas
o
Kau
o
Memagut
o
Belakang
o
Bersama
o
Terlampau
o
Bilakah
o
Engkau
o
Datang
o
Dirasuki
o
Renjana
o
Tatkala
o
Kiranamu
|
Tabel 2.4
Tabel Bunyi Kontoid
Bilabial
|
Labio dental
|
Dental
|
Alveolar
|
Palato alveolar
|
Palatal
|
velar
|
Glotal
|
|
Plosif
|
b p p’
bila,
pantas,
bersama,
pikirku,
belakang,
petang,
bilakah,
pudar,
|
t t’ d
di,
tak,
dari,
terlalu,
dungu,
terlampau,
dungu,
datang,
tatkala,
dirasuki
tak,
memagut’
|
g k k’
kan,
kusampaikan,
karena,
kau,
kiranamu,tak’
|
|||||
Afrikatif
|
c j
jatuh,
juga,
|
|||||||
Frikatif
|
v f
|
s
|
x
|
h
|
||||
Lateral
|
L
|
|||||||
Trit
|
r
ribaanku,
renjana,
|
|||||||
Flap
|
||||||||
Nasal
|
m
mentari,
mega,
memagut,
|
n
namun,
|
||||||
Semi vokal
|
y
yang,
|
Tabel 2.5
Kesamaan Fonetis
No
|
Pasangan
Kata
|
|
P
– B
|
D
– T
|
|
1
|
Pantas – Bila
|
Di – Tak
|
2
|
Pikirku – Bersama
|
Dari – Terlalu
|
3
|
Petang – Belakang
|
Dungu – Terlampau
|
4
|
Pudar – Bilakah
|
Datang – Tatkala
|
5
|
Dirasuki
|
|
T
– T’
|
K
– K’
|
|
1
|
Tak – Memagut
|
Kusampaikan – Tak
|
2
|
Terlalu
|
Ku
|
3
|
Terlampau
|
Kau
|
4
|
Tatkala
|
Karena
|
5
|
Kiranamu
|
|
6
|
Kan
|
|
L
– R
|
M
– N
|
|
1
|
Renjana
|
Mentari - Namun
|
2
|
Mega
|
|
3
|
Memagut
|
|
I
– U
|
i
– I
|
|
1
|
Inginku
|
Inginku – Pikirku
|
2
|
Itu
|
Itu – Inginku
|
3
|
Indah
|
Indah
|
Keterangan:
Bunyi-bunyi dikatakan mempunyai kesamaan fonetis apabila terdapat pada lajur yang sama, kolom yang sama, atau
pada lajur dan kolom yang sama.
Tabel 2.6
Tidak Kesamaan Fonetis
Mohon
maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi yang
tidak mempunyai kesamaan fonetis seperti bunyi [s], [c], dan [h]
Tabel
2.7
Bunyi-bunyi
yang Berdistribusi Komplementer
No
|
P
|
P’
|
1
|
[#pAή+tAs#] ‘pantas’
|
-
|
2
|
[#pi+kIr+ku#] ‘pikirku’
|
-
|
3
|
[#pə+tAƞ#] ‘petang’
|
-
|
4
|
[#pu+dAr#] ‘pudar’
|
-
|
K
|
K’
|
|
1
|
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
|
[#tA?’#] ‘tak’
|
2
|
[#ku#] ‘ku’
|
|
3
|
[#kAn#] ‘kan’
|
|
4
|
[#kAw#] ‘kau’
|
|
5
|
[#ka+rə+na#] ‘karena’
|
|
6
|
[#ki+ra+na+mu#] ‘kirana’
|
|
T
|
T’
|
|
1
|
[#tA?#] ‘tak’
|
[#mə+ma+gUt’#] ‘memagut
|
2
|
[#tər+la+lu#] ‘terlalu’
|
|
3
|
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’
|
|
4
|
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’
|
|
D
|
D’
|
|
1
|
[#iή+dAh#] ‘indah’
|
-
|
2
|
[#da+ri#] ‘dari
|
-
|
3
|
[#du+Ƞu#] ‘dungu’
|
-
|
4
|
[#da+tAƞ#] ‘datang’
|
-
|
5
|
[#pu+dAr#] ‘pudar’
|
-
|
6
|
[#di#] ‘di’
|
-
|
7
|
[#di+ra+su+ki#] ‘dirasuki’
|
-
|
B
|
B’
|
|
1
|
[#ri+ba+an+ku#] ‘ribaanku’
|
-
|
2
|
[bə+la+kAƞ#] ‘belakang’
|
-
|
3
|
[#bər+sa+ma#] ‘bersama’
|
-
|
[#bi+la#] ‘bila’
|
-
|
|
[#bi+la+kAh#] ‘bilakah’
|
-
|
Keterangan:
[p] [k] [t] [d] dan [b] sebagai onset silaba
[p’] [k’] [t’] [d’] dan [b’] sebagai koda
silaba
Tabel 2.8
Bunyi-bunyi yang Bervariasi Bebas
No
|
Gelombang
1
|
Gelombang
2
|
Gelombang
3
|
1
|
[#pAή+tAs#]
|
[#pi+kIr+ku#]
|
[#fi+kIr+ku#]
|
2
|
[#pə+tAƞ#]
|
||
3
|
[#pu+dAr#]
|
Keterangan:
[f] sebagai onset silaba dalam kata-kata golongan 2.
[p]
sebagai onset silaba yang bervariasi bebas dengan [f] dalam kata-kata golongan
2.
[p]
sebagai onset silaba dalam kata-kata golongan 1
Tabel 2.9
Bunyi-bunyi yang Berkontras dalam
Lingkungan yang Sama (identis)
Mohon
maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi yang
berkontras dalam lingkungan yang sama (identis).
Tabel
2.10
Bunyi-bunyi
yang Berkontras dalam Lingkungan yang mirip (analogis)
No
|
Kata
|
Analogis
|
1
|
[#pə+tAƞ#]
|
‘petang’
|
2
|
[#da+tAƞ#]
|
‘datang’
|
Keterangan:
Lingkungan yang mirip adalah [#p...+tAƞ#] dan [#d...+tAƞ#] jadi [ə] dan [a]
adalah alofon dari fonem yang berbeda.
Tabel 2.11
Bunyi-bunyi yang Berubah Karena
Lingkungan
No
|
[k]
: Plosif, velar mati
|
[k’]
: Plosif, palatal mati
|
1
|
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
|
[#Pi+k’Ir+ku#] ‘pikirku’
|
2
|
[#ku#] ‘ku’
|
[#di+ra+su+k’i#] ‘dirasuki’
|
3
|
[#ri+ba+an+ku#] ‘ribaanku’
|
[#k’i+ra+na+mu#] ‘kiranamu’
|
4
|
[#kAn#] ‘kan’
|
|
5
|
[#kAw#] ‘kau’
|
|
6
|
[#ka+rə+na#] ‘karena’
|
|
P
|
P’
|
|
1
|
[#pAή+tAs#] ‘pantas’
|
[#p’i+kIr+ku#] ‘pikirku’
|
2
|
[#pə+tAƞ#] ‘petang’
|
|
3
|
[#pu+dAr#] ‘pudar’
|
|
4
|
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’
|
|
5
|
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
|
|
T
|
T’
|
|
1
|
[#tA?#] ‘tak’
|
[#ja+t’Uh#] ‘jatuh’
|
2
|
[#tər+la+lu#] ‘terlalu’
|
-
|
3
|
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’
|
-
|
4
|
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’
|
-
|
5
|
[#məή+ta+ri#] ‘mentari
|
-
|
6
|
[#ja+tUh#] ‘jatuh’
|
-
|
7
|
[#i+tU#] ‘itu’
|
-
|
8
|
[#da+tAƞ#] ‘datang’
|
-
|
D
|
D’
|
|
1
|
[#iή+dAh#] ‘indah’
|
[#d’i#] ‘di’
|
2
|
[#da+ri#] ‘dari
|
[#d’i+ra+su+ki#] ‘dirasuki’
|
3
|
[#du+Ƞu#] ‘dungu’
|
|
4
|
[#da+tAƞ#] ‘datang’
|
|
5
|
[#pu+dAr#] ‘pudar’
|
|
B
|
B’
|
|
1
|
[#ri+ba+an+ku#] ‘ribaanku’
|
[#b’i+la#] ‘bila’
|
2
|
[bə+la+kAƞ#] ‘belakang’
|
[#b’i+la+kAh#] ‘bilakah’
|
3
|
[#bər+sa+ma#] ‘bersama’
|
Keterangan:
[k] [p] [t] [d] dan [b] jika diikuti oleh vokoid tengah dan belakang.
[k’]
[p’] [t’] [d’] dan [b’] jika diikuti vokoid depan.
Tabel 2.12
Bunyi-bunyi dalam Inventori Fonetis,
Fonemis, Condong menyebar secara simetris
No
|
[t]
|
[t’]
|
1
|
[#məή+ta+ri#] ‘mentari’
|
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’
|
2
|
[#ja+tUh#] ‘jatuh’
|
|
3
|
[#tA?#] ‘tak’
|
|
4
|
[#pAή+tAs#] ‘pantas’
|
|
5
|
[#tər+la+lu#] ‘terlalu’
|
|
6
|
[#tər+lAm+pAw#] ‘terlampau’
|
|
7
|
[#da+tAƞ#] ‘datang’
|
|
8
|
[#tAt+ka+la#] ‘tatkala’
|
|
9
|
[#pə+tAƞ#] ‘petang’
|
|
K
|
K’
|
|
[#ku+sAm+pAy+kAn#] ‘kusampaikan’
|
[#tA?’#] ‘tak’
|
|
[#ku#] ‘ku’
|
||
[#kAn#] ‘kan’
|
||
[#kAw#] ‘kau’
|
||
[#ka+rə+na#] ‘karena’
|
||
[#ki+ra+na+mu#] ‘kirana’
|
Keterangan:
[t] dan [k] sebagai onset silaba.
[t’]
dan [k] sebagai koda silaba.
Tabel 2.13
Bunyi-bunyi yang Berfluktuasi
Mohon
maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi yang
berfluktuasi.
Tabel
2.14
Bunyi-bunyi
Selebihnya sebagai Fonem Tersendiri
Mohon
maaf, di dalam lirik lagu Bila karya Oscar lolang tidak ada bunyi-bunyi sebagai
fomen tersendiri seperti bunyi [s], [c], dan [h].
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Fonemik adalah bidang linguistik
yang mempelajari bunyi bahasa tanpa dengan memperhatikan apakah bunyi tesebut
mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sebagai mana diketahui bahwa
fonemik sacara fungsional dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik
mengkhususkan perhatianya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi
bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya memfokuskan bagaimana
bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara maupun dari segi
tempat artikulasinya.
Salah satu cara untuk mengetahui
bahwa kesatuan bunyi terkecil tersebut berfungsi sebagai pembeda makna
cara yang bisa ditempuh adalah melakukan pembuktian secara empiris, yaitu
dengan membandidngkan bentuk-bentuk linguistik bahasa yang diteliti.
Dengan demikian, kalau kita ingin mengetahui fungsi bunyi bahsa Indonesia,
misalnya, kita harus membandingkan bentuk-bentuk linguistik bahasa indonesia
Dengan
melakukan sebuah analisis fonem dalam lirik lagu Bila karya Oscar Lolang, kita
dapat mengetahui runtutan bunyi ujaran yang mempunyai puncak kenyaringan yang biasanya
jatuh pada sebuah vokal, dan dapat mengetahui berbagai hambatan yang ada pada
sebuah kata dan sumber bunyi yang ada di dalam tubuh yang ada dalam lirik lagu
tersebut.
2.
Saran
Melakukan analisis lirik
lagu memerlukan konstrasi yang tinggi, oleh karena itu kita harus selalu fokus
saat menganalisis sebuah lirik lagu.
DAFTAR
PUSTAKA
Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia
Jakarta: PT Bumi Aksara
Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia
Jakarta: Rineka Cipta
Komentar
Posting Komentar